Jumat, 01 Oktober 2010

STRATEGI PEMASARAN PRODUK MELALUI MEDIA PERIKLANAN

TEMA : STRATEGI PEMASARAN
PENGARANG : Pujiyanto 1, Januari 2003

Latar belakang dan masalah :
Di era perdagangan bebas merupakan masa persaingan produsen dalam memasarkan
produknya. Produsen menginginkan pada era tersebut produknya dapat diterima masyarakat secara
luas. Agar produknya sampai ke konsumen maka perlu informasi yang jelas melalui media
periklanan. Kejelasan informasi pada segmen pasar terhadap produk yang diiklankan akan
menghasilkan tanggapan positif dari konsumen yang tentunya akan mendapatkan keuntungan bagi
produsen.

Tujuan Penelitian :
Dunia Usaha di Indonesia berkembang dengan pesat, hal ini disebabkan oleh
beberapa kebijakan ekonomi yang diluncurkan Pemerintah sejak tahun 1983 dalam
bentuk deregulasi dan debirokrasi. Lebih lagi di era global perdagangan bebas AFTA di
tahun 2003 dan APEC mulai tahun 2020 yang memberikan kesempatan produsen untuk
memasarkan secara bebas.
Adanya pasar bebas yang mengakibatkan dunia perdagangan menjadikan
persaingan promosi yang lebih seru, karena banyaknya jenis produk yang ditawarkan.
Berbagai jenis produk yang ditawarkan sangat berhati-hati dalam mengisi dicelah-celah
bisnis melalui promosi. Mengatur strategi pemasaran melalui promosi antar produsen
agar produknya meningkat dan jangkauan pasar lebih luas merupakan jurus yang harus
dilakukan.
Persaingan antar produk di pasaran mendorong produsen gencar untuk berpromosi
yang dapat menarik perhatian konsumen. Promosi dapat dilakukan melalui berbagai cara,
antara lain; melalui promosi penjualan, publisitas umum, penjualan pribadi, dan
periklanan. Promosi melalui media periklanan sangatlah efisien karena menggunakan
biaya rendah dan mempunyai daya bujuk (persuasif) yang kuat. Promosi melalui
periklanan sangatlah efektif karena dapat memberikan informasi yang jelas terhadap
produk pada segmen tertentu. Iklan mengarahkan konsumen dalam menyuguhkan produk
sehingga dapat diyakini untuk memenuhi kebutuhan pembeli
Metode Penelitian :
Perilaku pembuatan keputusan konsumen dapat didasarkan atas prinsip problem
solving (pemenuhan kebutuhan), rasional (pertimbangan akal sehat tentang fungsi dan
kegunaannya), atau hedonic benefits (pertimbangan emosional / afektif, cita rasa, dan
estetika). Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal meliputi lingkungan budaya, kelas sosial, pengaruh personal, keluarga
dan situasi setempat. Sedangkan faktor internal mencakup sumber daya yang dimiliki
setiap individu konsumen (waktu, uang, perhatian, dll), motivasi dan keterlibatan diri,
pengetahuan, sikap, serta unsur-unsur psikografis, dan demografisnya (Engel.1990:45).
Konsumen menganggap bahwa iklan sebagai jendela informasi sebagai paduan
dalam memilih produk. Di lingkungan produsen, iklan merupakan media promosi tentang
kualitas dan ciri-ciri produk kepada masyarakat baik orang tua maupun anak-anak.
Sebagai calon konsumen tentu perlu informasi yang jelas terhadap produk yang
diiklankan. Melalui informasi yang jelas niscaya calon konsumen akan mempunyai
keputusan untuk membeli.
Dalam memutuskan mengkonsumsi produk bisa dipengaruhi oleh informasi produk
yang diiklankan, tampilan iklan yang menarik, dan model yang ada di iklan. Hal ini
menunjukkan bahwa iklan mempunyai peran yang sangat kuat dalam membujuk
konsumen yang terjaring dalam lingkarannya terbius untuk mengikuti produk yang
diinformasikan










Informasi media periklanan yang lancar dan mudah dipahami oleh masyarakat
(konsumen) akan memberikan tanggapan yang positif bagi konsumen. Informasi yang
jelas secara visual maupun verbal dan tidak menyinggung perasaan konsumen akan
menguntungkan dipihak produsen. Harapan positif di hati masyarakat merupakan tujuan
utama produsen dalam menawarkan produknya, sehingga bisa diterima di pasaran.
Berbagai cara produsen dalam mempromosikan produknya melalui periklanan diharapkan
mendapatkan citra positif konsumen. Penilaian konsumen terhadap produk, yang
dimaksud antara lain;
1. Memperoleh penilaian baik dari konsumen
Penilaian dari konsumen sangat penting, karena dapat diketahui apakah yang
diiklankan sudah diterima atau tertanam di hati konsumen. Bila ikhan tidak diterima
karena faktor penyimpangan budaya atau faktor lain yang dapat mengakibatkan
ruginya produk yang diinformasikan melalui iklan. Sebagai contoh iklan produk
Sanaflu yang slogannya “belum tahu dia” berhasil menjadi iklan favorit tahun 1998
karena begitu mudahnya mengingatkan pada produk yang diinformasikan, sehingga
produk meningkat drastis. Sayangnya di wilayah Jawa Tengah produk ini kurang
begitu laku dibandingkan dengan daerah lain, karena dianggap iklannya meremehkan
budaya Jawa.
2. Memupuk baik dan memberi pengertian tentang produk yang dibutuhkan konsumen.
Teknik ini dilakukan untuk menguatkan persepsi baik pada diri konsumen terhadap
produk yang diinginkan. Konsumen akan teringat terhadap produk yang diiklankan
berkali-kali. Sering munculnya iklan dalam menawarkan atau memperkenalkan
produk yang tidak menyesatkan, sehingga konsumen akan menerima informasi yang
akhirnya membeli produk yang ditawarkan, seperti produk obat-obatan.
3. Memperoleh etiket baik dari konsumen dalam membantu mempromosikan produk
Tanggapan baik konsumen terhadap produk yang diiklankan sangat membantu dalam
kelancaran promosi. Suatu produk mempunyai kualitas dan keunggulan seperti yang
diinformasikan dalam iklan sangat membantu menciptakan predikat baik. Anggapan
seperti ini seperti pada produk SONY yang sudah mendapatkan kepercayaan
konsumen. Karena merasa puas pada produk yang pernah mereka beli, mereka tanpa
sengaja juga ikut berpromosi antar mulut “gethok tular” kepada calon pembeli.
4. Mengatasi prasangka buruk pada konsumen terhadap produk yang ditawarkan
Iklan kadang kala menutupi kekurangan kualitas produk yang diinformasikan, atau
konsumen mempunyai prasangka buruk terhadap yang diinformasikan. Untuk
meluruskan informasi yang kurang tepat ini perlu adanya iklan yang jitu guna
menangkis anggapan tersebut. Seperti kejadian produk MIWON yang disinyalir
mengandung ensim babi hingga produk tersebut dicabut dari pasaran. Mandra selaku
bintang iklannya bertindak tegas untuk memutuskan tidak mau lagi memperpanjang
kontrak. Produk ini tentunya sudah jatuh dimata konsumen, khususnya masyarakatmuslim. Bagaimana agar produk ini bisa diterima kembali pada konsumen ?. Di
sinilah peran iklan sebagai mediator, maka muncul iklan versi baru MIWON yang
diperagakan keluarga muslim yang diperankan Dedy Mizwar. Hal ini membuktikan
bahwa produk yang ditawarkan melalui iklan ini tidak mengandung enzim babi atau
halal.
5. Mendidik konsumen untuk menggunakan produk yang disajikan pada iklan
Informasi ini sering dilakukan melalui iklan produk obat-obatan. Agar konsumen tidak
salah persepsi terhadap obat yang diiklankan, maka dalam menginformasikan harus
sangat rinci, baik tahapan pemakaian atau kegunaannya. Bila hal ini salah
menginformasikan akan fatal akibatnya, sebagai contoh obat untuk dewasa
diminumkan anak-anak yang mengakibatkan kejang-kejang. Hal ini jelas salah
menginformasikan atau persepsi konsumen berbeda dengan yang diinformasikan
dalam iklan. Agar hal ini tidak terjadi maka perlu penjelasan manfaatnya dan efek
sampingnya.
6. Memberikan penerangan dan pendidikan terhadap konsumen.
Tidak semua iklan memberikan penerangan atau pendidikan pada konsumen, karena
dinilai kurang efektif dalam meningkatkan pemasaran. Kurang efektifnya iklan
tersebut kemungkinan disebabkan oleh kurang tepatnya waktu penginformasian. Bila
waktu pemberian tepat, niscaya akan dapat diterima konsumen dengan sendirinya
pemasaran akan lancar. Sebagai contoh produk Pepsodent yang berpromosi secara
langsung kepada Pramuka Gugus Depan di Magelang yang sebagian besar diikuti oleh
anak-anak sekolah, begitu juga yang dilakukan pada Sekolah Dasar Negeri Tambak
Wedi Surabaya pada tangal 5 September 2002. Pihak Pepsodent memberikan
penerangan bagaimana merawat gigi yang baik dan benar. Promosi ini sangat berhasil,
karena mendapat tanggapan masyarakat yang positif, sekaligus menanamkan
kepercayaan produk tersebut pada diri sipemakai.
simpulan

Periklanan merupakan salah satu media promosi dalam memasarkan produk yang
ditujukan pada konsumen agar bereaksi mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Strategi
yang sering dilakukan produsen dalam memasarkan produknya melalui media periklananadalah membidik segmen pasar tertentu. Dalam menghadapi pasar bebas di era global
tentunya strategi ini sangat efisien dan tepat, karena sesuai faktor pasar, seperti; geografis,
demografis, psikologis, dan behavioristik. Bila informasi yang disampaikan jelas sesuai
dengan segmen tentunya akan mendapat tanggapan positif di pihak konsumen yang
akhirnya membeli produk yang ditawarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar